
Surakarta – Rotasi gizi klinik menjadi salah satu tahapan pembelajaran yang paling menantang bagi mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dietisien Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Melalui praktik di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto, mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyusun intervensi gizi yang tepat, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, serta membangun hubungan yang baik dengan pasien.
Salah satu mahasiswa, Afiya Hasna Nabila, mengungkapkan bahwa rotasi klinik memberikan pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan rotasi lainnya. Selain memiliki durasi praktik yang lebih panjang, mahasiswa dihadapkan pada berbagai kasus penyakit dengan tingkat kompleksitas yang tinggi sehingga setiap keputusan intervensi gizi harus disusun secara cermat.
“Setiap hari kami harus bertemu pasien, melakukan asesmen, memahami kondisi penyakitnya, kemudian menentukan intervensi gizi yang tepat. Setelah itu kami juga memberikan edukasi mengenai pola makan yang perlu diterapkan setelah pasien pulang. Dari sini saya belajar bahwa setiap intervensi harus benar-benar dipertimbangkan karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien,” ungkap Afiya.
Selama menjalani praktik, mahasiswa memperoleh pendampingan intensif dari Clinical Instructor (CI), termasuk sesi diskusi kasus yang dilaksanakan hampir setiap hari. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak membahas berbagai penyakit yang ditemui di ruang perawatan beserta tatalaksana diet yang sesuai. Menurut Afiya, pengalaman belajar bersama CI menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama praktik. Setiap kasus dibahas secara mendalam sehingga mahasiswa memperoleh wawasan baru yang tidak hanya memperkuat pemahaman teori, tetapi juga meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan klinis.
Selain mengasah kompetensi akademik, rotasi klinik juga memberikan pengalaman yang membentuk kemampuan komunikasi mahasiswa. Salah satu momen yang paling membekas bagi Afiya terjadi ketika seorang pasien yang berada di tempat tidur sebelah memperhatikan proses asesmen yang sedang dilakukannya. Setelah asesmen selesai, pasien tersebut memanggil Afiya untuk berkonsultasi mengenai makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi sesuai dengan kondisi kesehatannya.

“Beliau bercerita sempat berbeda pendapat dengan keluarganya mengenai makanan yang boleh dikonsumsi. Saya kemudian mencoba menjelaskan sesuai kondisi pasien. Momen seperti itu membuat saya merasa senang karena ilmu yang dipelajari ternyata benar-benar dapat membantu orang lain,” tuturnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan saat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. Respons yang kooperatif, suasana diskusi yang hangat, hingga antusiasme keluarga dalam mengajukan pertanyaan memberikan pengalaman berharga bahwa keberhasilan asuhan gizi tidak hanya ditentukan oleh ketepatan intervensi, tetapi juga oleh kemampuan dietisien membangun komunikasi yang efektif.
Bagi Afiya, rotasi gizi klinik mengubah pandangannya terhadap profesi dietisien. Ia menyadari bahwa peran dietisien tidak sebatas menghitung kebutuhan gizi atau menentukan jenis diet, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh, menggali informasi yang relevan, serta menyampaikan edukasi dengan cara yang mudah dipahami agar intervensi gizi dapat berjalan secara optimal. (zf)

