Rotasi Gizi Masyarakat, Saat Mahasiswa Profesi Dietisien UMS Belajar dari Kehidupan Nyata

Surakarta – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dietisien Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperoleh pengalaman berharga selama menjalani rotasi Gizi Masyarakat di Puskesmas Bringin, Kabupaten Semarang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu gizi yang telah dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga belajar memahami berbagai faktor sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang memengaruhi status gizi masyarakat. Praktik berlangsung mulai tanggal 16 Februari 2026.

Salah satu mahasiswa, Fathia Ihza mengungkapkan bahwa rotasi masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan rotasi lainnya. Jika pada rotasi klinik mahasiswa lebih banyak menangani kasus dengan kondisi medis yang kompleks, maka pada rotasi masyarakat fokus pelayanan lebih banyak dilakukan pada kelompok sasaran seperti lansia, ibu hamil, ibu balita, dan calon pengantin.

Mahasiswa memberikan penyuluhan kepada masyarakat

“Kami banyak belajar bahwa permasalahan gizi di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan penyakit, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi, akses pelayanan kesehatan, serta kebiasaan makan masyarakat setempat,” ungkapnya.

Selama praktik, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pelayanan posyandu, program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis), penyuluhan gizi, hingga kegiatan homecare dan penerapan makanan enteral. Dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, mahasiswa dituntut untuk menyesuaikan materi dengan kondisi dan budaya setempat. Salah satunya dilakukan melalui penggunaan bahasa Jawa dalam penyuluhan kepada kelompok lansia serta pemberian rekomendasi makanan yang mudah diperoleh dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat.

Pengalaman yang paling berkesan diperoleh saat pelaksanaan homecare dan penerapan makanan enteral selama dua pekan. Melalui kunjungan langsung ke rumah keluarga sasaran, mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana peran keluarga memengaruhi status gizi anak. Selain memberikan edukasi terkait peningkatan berat badan balita, mahasiswa juga mendampingi keluarga dalam memilih bahan pangan yang mudah diperoleh dan dapat diolah menjadi menu bergizi.

Kegiatan homecare juga memberikan gambaran mengenai tantangan akses pelayanan kesehatan di wilayah pedesaan. Mahasiswa harus menempuh perjalanan melalui jalan berbukit dan berkelok untuk menjangkau rumah sasaran. Pengalaman tersebut memperluas pemahaman mahasiswa mengenai kondisi riil masyarakat serta pentingnya pelayanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Fathia, kompetensi yang diperoleh selama pendidikan profesi juga berbeda dibandingkan saat menempuh pendidikan sarjana. Pada tahap profesi, mahasiswa diberikan tanggung jawab yang lebih mandiri dalam melakukan homecare, menyusun intervensi gizi, mengidentifikasi masalah gizi masyarakat, menyusun media edukasi, hingga melaksanakan penyuluhan secara langsung kepada kelompok sasaran.

Melalui rotasi Gizi Masyarakat, mahasiswa Profesi Dietisien UMS tidak hanya mengembangkan kompetensi teknis di bidang gizi, tetapi juga meningkatkan kemampuan komunikasi, adaptasi budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam membentuk dietisien yang mampu memberikan pelayanan gizi secara komprehensif sesuai kebutuhan masyarakat.

Mahasiswa memberikan konseling gizi di puskesmas
Scroll to Top